Kamis, 09 Januari 2014

Rujak Buah

RESEP RUJAK BUAH



Bahan:
100 gram nanas
100 gram pepaya
100 gram melon
100 gram kedondong
100 gram bengkuang
100 gram jambu air

Saus kacang:
300 gram gula jawa
200 gram kacang tanah goreng
25 gram nanas dipotong kecil-kecil
4 sendok makan air asam jawa

Bumbu:
4 siung bawang merah
4 siung bawang putih
½ sendok teh terasi dibakar
1 sendok makan gula pasir
garam

Garam cocol:
4 sendok makan garam kasar
3 buah cabai rawit merah

Caranya:
1. Cuci bersih semua buah, tiriskan.Potong-potong sesuai selera.
2. Saus kacang: Ulek halus bumbu, tambahkan gula jawa dan kacang tanah goreng, ulek kasar, tambahkan potongan buah nanas dan air asam jawa, cicipi. Sisihkan.
3. Garam cocol:
Ulek garam dan cabai bersama-sama, sisihkan.
4. Sajikan potongan buah dengan saus kacang dan atau garam cocolan.

Resep lainnya bisa didapat di Rasamasa.com

Senin, 30 Desember 2013

BAHASA INDONESIA, CERPEN

NAMA      : HENDAH LAHYUNITA KUSIANDARI
KELAS      : 3EB08
NPM         : 23211278

Darkness
        Di tengah kegelapan aku melihat dengan mataku sendiri bahwa orang yang sekarang ini menjadi pacarku, orang yang selama ini paling mengerti aku, sangat aku percayai. Ia sedang mencium seorang perempuan di ruang osis.
        Aku terdiam, terpaku menutup mulutku dengan kedua tanganku. Menahan tangis yang sepertinya ingin keluar. Aku berlari. Berlari sangat cepat, sampai aku sempat terjatuh. Aku berlari menuju lapangan sekolah yang hanya di terangi oleh beberapa lampu yang redup.
        Aku duduk, duduk terjatuh. Di tengah lapangan. Mengeluarkan suluruh tangisku yang ku tahan. Membiarkan air mataku jatuh membasahi rokku.
        Aku tak tahu seberapa lama aku menangis disini. sampai ada seseorang yang memegang pundakku. “kamu kenapa sayang?” tanya Putra.
        Aku segera berdiri, menghapus air mataku. Membalikkan badan kearahnya. Menatap Putra dan Zia bergantian. Aku berjalan menenteng tas ranselku. Berjalan menjauhi mereka.
        “Nana. Nana.” Panggil Putra. Aku terus berjalan tanpa menghiraukan panggilan Putra.
        Putra berhasil menghentikan langkahku, ia menarik tangaku.
        “kamu kenapa?” tanya Putra yang entah sejak kapan sudah ada di hadapanku. Aku terus menundukkan kepala. Tak ingin melihatnya.
        Putra menarik wajahku, membuatku menatapnya.
        “aku Cuma mau pulang.” Ucapku
        “iya, aku anterin.” Ucap Putra menarikku ke parkiran motor. Aku menurutinya, berjalan di belakangnya dengan menundukkan kepalaku.
        Aku melihat Zia yang sudah duduk di atas motornya. Yang sepertinya sedang menunggu kami. Zia tersenyum padaku, tapi aku tidak bisa tersenyum seperti dulu. Saat aku belum melihat kejadian tadi.
        Putra menyerahkan helm padaku, aku mengambilnya dan duduk di balik punggungnya.
*
        Pagi ini aku sangat tidak semangat mengikuti pelajaran sekolah, masih terbayang di pikiranku kejadian yang terjadi semalam. Mengingat itu membuatku ingin menangis rasanya.
        Aku duduk di bangku ku menyandarkan punggungku ke kursi. Melihat teman – temanku yang berlalu lalang keluar masuk kelas. Aku memang tidak begitu akrab dengan teman – teman satu kelas. Aku sudah terbiasa sendiri dalam kelas.
        Biasanya memang Putra yang menemaniku. Putra, sudah 2 tahun ini ia menjadi pacarku. Aku berkenalan dengannya sewaktu kami bertemu di MOS.
        “mana Putra? Kok gw enggak liat dia?” tanya Sekar teman sebangku ku. Aku meliriknya membetulkan letak dudukku.
        Sekar duduk di sampingku dengan membawa bungkusan roti dan menawarkannya padaku. Aku menolaknya.
        “gak tahu.” Jawabku.
        “lo lagi marahan?” tanya Sekar. Ia memang selalu penasaran tentang segala hal.
        Aku menggeleng, beranjak dari tempat dudukku dan berjalan keluar kelas. Aku masih bisa mendengar suara Sekar yang menyakan aku kemana. Tapi, aku menghiraukannya.
        Aku berjalan tak tahu mau kemana. Aku tidak lapar, aku juga tidak ingin ke toilet. Aku hanya bosan duduk selama jam istirahat di dalam kelas.
        Aku terus berjalan dan tak sengaja melewati ruang osis. Aku berhenti berjalan. terdiam di depan ruang osis. Menatap ruangan itu, kejadian semalam yang aku liat di sana berputar kembali seperti film.
*
        Aku berjalan menuju toilet, yang melewati kelas Putra. Aku mengintip di balik pintu kelasnya. Dan tidak melihat Putra di dalam kelasnya. Aku memetuskan untuk melanjutkan perjalananku ke toilet. Di hadapanku. Putra dan Zia berjalan bersama, tertawa bersama. Zia selalu saja tersenyum, tentang apapun yang di keluarkan dari mulut Putra.
        Aku ingin menghindar, tapi untuk apa aku menghindar. Bukan aku yang salah. Mereka yang berada di hadapanku. Yang membuat aku seperti ini.
        Putra sepertinya mengetahui keberadaanku. Ia tersenyum, dan berjalan ke arahku denga langkah – langkah besar.
        “sms aku enggak di bales?” tanya Putra begitu ia berada tepat di hadapanku. Di sampingnya berdiri Zia yang juga tersenyum padaku.
        “pulsaku abis.” Jawabku berbohong.
        “kamu mau kemana?” tanyanya lagi. Aku tidak mejawabnya, aku hanya menunjuk toilet yang tak jauh dari tempat kami berdiri.
        “Zi, lo duluan aja ke kelas.” Ucap Putra, Zia hanya tersenyum dan mengangguk. Menepuk pundakku pelan dan berjalan meninggalkan kami berdua.
        Aku berjalan terlebih dahulu, Putra berjalan di sampingku. Aku menatapnya ragu.
        “kamu mau ke toilet?” tanyaku. Putra menggeleng. Aku masuk ke dalam toilet dan entah apa yang dilakukan Putra di luar.
*
        Hari ini ada Try Out yang harus kami jalani, tidak terbayangkan olehku, seberat ini menjadi Siswi kelas 3. Bulan depan, kami sudah menjalani Ujian Nasional. Itu berarti masa – sama SMA kami akan berakhir sudah.
        Teman – temanku sibuk mencari universitas mana yang akan mereka masuki. Tapi, sampai sekarang aku belum tahu. Universitas mana yang akan aku masuki.
        “sayang” panggil Putra, aku menengok yang ternyata Putra sudah duduk di sampingku. Aku sendiri tidak menyadari kapan ia datang.
        “ayo kita keruang BK, aku mau lihat brosur universitas.” Ajak Putra. Aku menggelengkan kepala menolaknya.
        “kenapa? Akhir – akhir ini kamu jadi jarang berbicara denganku.” Ucapnya.
        Apakah ia tidak pernah intropeksi diri. Mengapa sikapku berubah 180  kepadanya. Aku menatapnya kesal. Berjalan keluar kelas meninggalkannya.
*
        Minggu ini kami di sibukkan belajar, karena hari ini, senin sampai kamis. Kami akan menjalani Ujian Nasional bersama siswa lain di seuruh Indonesia.
        Beberapa minggu yang lalu, aku mendapat tawaran dari universitas de Marne-la-Vallée yang berada di perancis. Ini sebuah tawaran yang sangat besar. Tentu saja aku sangat senang, lalu aku segera mengirimkan CV ku pada mereka.
        Mereka bilang kamis ini, mereka akan memberikan surat – surat kepindahanku kasana. Tidak ada yang mengetahui ini kecuali orang tuaku.
        Putra aku belum memberitahunya. Dan aku tidak akan pernah memberitahunya. Menurutku aku dan Putra sudah putus di malam itu. tapi, aku tidak pernah mengatakannya. Aku hanya ingin ia, menyadari sendiri.
*
        Senang, lega bercampur menjadi satu. Hari ini adalah hari terakhir kami Ujian Nasional. Semua bersorak dengan senangnya, tak terkecuali aku. Bereplukan dengan teman sekelasku. Berfoto bersama. Mungkin ini adalah terkahir kalinya aku bertemu dengan mereka.
        Tentunya aku harus mendapatkan foto mereka sebanyak mungkin.
        “wah, hasil jepretan yang bagus.” Ucap Putra yang entah sejak kapan sudah berada di sampingku. Aku menatapnya kaget.
        Ia menrangkulku sambil megambil alih kameraku yang sekarang berada di tanganya. Aku terus saja menatapnya. Kalau aku sudah mengatakan semuanya. Mungkin aku tidka bisa melihatnya sedekat ini.
        Untuk hari ini, haruskah aku bersikap baik terhadapnya. Dan mengucapkan selamat tinggal?
        “ada apa? Kenapa kamu menatapku seperti itu?” tanyanya. Tapi, matanya tetap pada kamera yang di pegangya.
        Aku merebut kamera itu. “sekar.” Panggilku. Sekar menengok, aku memberika kamera itu padanya.
        “fotoin kami.” Ucapku pada Sekar. Sekar mengangguk. Kami pun berpose. Putra masih merangkul dan tak lupa aku tersenyum.
        Sekar mengembalikkan kamera padaku. “thanks” ucapku. Dan melihat hasil foto bersama Putra. Aku tersenyum melihat hasilnya.
        “foto terakhir kita.” Ucapku. Mematikan kameraku dan memasukkannya kedalam tas.
        “kenapa terakhir?” tanya Putra, aku hanya menatapnya dan tak mejawab pertanyaannya.
        “Nana, lo di panggil guru BK.” Ucap Nando ketua kelas, kelasku. Aku menjinjing tasku di pundak dan berjalan keluar kelas.
        “hey, jawab pertanyaan aku. Kenapa terkahir?” tanya Putra yang berajalan di sampingku.
        “kamu akan tahu.” Ucapku,
*
        Aku berjalan memasuki ruang BK. Putra masih berjalan mengikutiku.
        “ini surat dari uiversitas de Marne-la-Vallée. Kamu tak perlu menunggu surat – surat kamu dari sekolah ini. Nanti kami akan lagsung mengirimkannya kesana.” Ucap Bu Dina, guru BK ku.
        Aku mengangguk mengerti dan megambil amplop putih itu. tapi, tanganku kalah cepat dengan Putra. Kini amplop itu sudah berada di tangannya.
        Ia membukanya, membaca isinya. Setelah itu ia menarik ku keluar dari ruang BK. Terus menarikku sampai kami berada di halaman belakang sekolah.
        “apa ini?” tanyanya marah. Aku mengambil amplop yang berada di tangannya.
        “kamu sudah bacakan?”
        “kenapa kamu enggak pernah bilang sebelumnya?”
        “apa aku perlu menceritakan semuanya?”
        “kamu anggap apa aku?” tanyanya, meletakkan tangannya di kedua pundakku.
        “mantan pacar.” Ucapku melepaskan dengan paksa tangan Putra dari kedua pudakku.
        “apa?”
        “sejak kalian berciuman. Kita sudah tidak ada hubungannya.”
        “kalian siapa?” tanyanya masih tidka mnegerti apa yang baru saja aku ceritakan.
        “kamu dan Zia!!” teriakku tepat di hadapannya. Putra terdiam ia menundukkan kepalanya.
        “kamu melihatnya?” tanyanya, menatapku sedih. “aku bisa menjelaskannya.” Ucapnya mencoba menarik tanganku. Tapi, aku segera menjauhinya.
        “Zia, malam itu ia menyatakan perasaannya padaku. Tapi, tentu saja aku menolaknya. Ia terus saja memaksaku untuk menjadi pacarnya. Walaupun ia tahu aku udah sama kamu. Kemudian ia menciumku.” Jelas Putra.
        “jadi sekarang kami ingin menerimanya? Terima saja. Toh kita sudah tidak bersama.” Ucapku sinis.
        Putra menggelengka kepalanya, ia memelukku, memelukku erat. “percaya padaku. Kita bisa memperbaiki ini.” Ucapnya.
        Aku melepaskan pelukannya dengan paksa. Menatapnya marah, “tidak ada yang perlu di perbaiki. Sejak saat itu kita memang sudah putus.” Ucapku.
        “tidak. Aku mohon, maafkan aku.” Ucapnya bersikeras.
        “selamat tinggal Putra!” ucapku, menatapnya sambil terseyum dan meninggalkanya.
        Aku berjalan pelan meninggalkan sekolah ini, menangisi apa yang telah terjadi. Meninggalkan kenangan 2 tahun bersama Putra di sekolah ini. Meninggalkan lukaku, senangku, marahku, dan patah hatiku.
        Sampailah aku di pintu gerbang, aku membalikkan badan. Menatap sekolah yang akan aku tinggalkan dengan menatap amplop putih yang berisi masa depanku.
        “terima kasih untuk semuanya dan selamat tinggal untuk semuanya.” Ucapku. Berjalan meninggalkan gerbang yang telah mempersilahkan ku masuk.
*

Selasa, 05 November 2013

Resensi Film

Nama                    : Hendah Lahyunita Kusiandari
Kelas                    : 3EB08
NPM                    : 23211278
Mata Kuliah          : Softskill (Bahasa Indonesia)



·        Identitas film       
Judul                    : Paa
Sutradara             : R. Balki
Produksi               : Amitabh Bachchan
            sunil Manchanda
Ditulis                  : R. Balki
Dibintangi            : Amitabh Bachchan
            Abhishek Bachchan
            Vidya Balan
            Paresh Rawal
            Arundhati Nag
Music                             : Ilaiyaraaja
Sinematografi       : P. C. Sriram
Editing                 : Anil Naidu
Didistribusikan    : Reliance Big
  MAD Entertainment Ltd
  Amitabh Bachchan Korporasi
Tanggal rilis                   : 4 Desember 2009
Durasi                  : 133 menit
Negara                  : India

·        Sipnosis Film
Paa menyajikan cerita yang unik, ia menceritakan kehidupan seorang anak yang menderita penyakit Progeria atau penuaan dini. Anak yang menderita penyakit Progeria walaupun ia masih berumur belasan tahun namun kondisi fisik tubuhnya seperti orang yang sudah renta. Biasanya penderita progeria hanya berumur tak lebih dari 13 tahun. Ini dikarenakan Progeria yang merupakan penyakit kelainan genetika bawaan sejak lahir belum ditemukan cara penyembuhannya.
Secara umum penyakit progeria termasuk penyakit yang langka. Sehingga sangat jarang orang yang menjadi penderitanya dan tak banyak pula yang mengetahui tentang adanya penyakit ini. Melalui film Paa ini penonton diajak mengenal penyakit Paa. Diceritakan dalam film ini anak yang menderita penyakit Pregoria, Auro yang diperankan Amitabh Bachchan berumur 12 tahun namun fisiknya seperti pria yang sudah berumur 80 tahun. Ia tinggal bersama ibunya, Vidya (Vidya Balan) dan sang nenek (Arundathi Nag). Namun ia tak pernah mengenal sang Ayah, Amol (Abhisek Bachchan). Diceritakan Amol dan Vidya berpisah dan Amol tak pernah tahu Vidya melahirkan Auro.
Secara sekilas cerita ini bisa jadi cerita yang mengarukan. Seorang anak menderita penyakit langka, berbeda dengan anak-anak lain, dibesarkan tanpa ayah dan tak mengetahui siapa ayahnya. Namun, tidak seperti itu film ini dikemas. Paa mengemas cerita mengharukan menjadi drama yang segar, penuh kehangatan, memberikan kesan kasih sayang dan bumbu-bumbu komedi dari tingkah laku anak-anak yang sukses diperankan Amitabh Bachan melalui Auro. Layaknya penderita Progreria, walaupun Auro tumbuh dengan fisik yang sangat cepat menua ia tetap anak yang riang dan memiliki sifat dan sikap layaknya anak biasa. Melalui tingkah anak-anak Auro tak jarang film ini mengundang tawa penonton dan membuat film ini menjadi segar.
Di tengah perjalan ia akhirnya mengetahui ternyata Amol yang merupakan salah seorang politikus terpandang di India adalah ayahnya. Diceritakan pula Amol yang bertemu dengan Auro pada sebuah acara tertarik pada keunikkan Auro. Hingga terjalin hubungan ‘pertemanan’ antara keduanya. Cerita akhirnya berlanjut antara Auro yang menjaga janji pada sang Ibu untuk merahasiakan Amol adalah ayahnya dan Amol yang kian merasa ada ikatan antara dirinya dengan Auro. Melalui jalinan perasaan antara Auro dan Amol inilah penonton disentuh rasa harunya tentang hubungan antara ayah dan anak yang bisa saja lebih menyentuh ketimbangan hubungan anak dan ibu. Penyatuah antara komedi segar dan keharuan film inilah yang membuat Paa menjadi tak bosan ditonton.
Paa juga menyinggung masalah perpolitikan Amol. Diceritakan Amol sejak lama bermimpi menjadi politikus yang ingin memperbaiki India hingga mengorbankan hubungannya dengan Vidya di masa lalu. Namun perjuangan Amol mewujudkan mimpi itu ketika ia telah menjadi politikus tidaklah mudah. Apalagi ketika cerita mengenai Auro mulai terendus media. Jadilah film ini tentang hubungan ayah dan anak dan keunikan cerita Pregoria yang mengharukan sekaligus menyegarkan dengan komedi segar.
·        Kelebihan   :
Film ini menyajikan cerita yang unik, mudah di mengerti, film ini juga sangat berbeda dengan film-film india pada umumnya yang banyak mengusung cerita percintaan antara 2 orang yang sendang kasmaran, dan banyak pesan pesan yang bisa di tangkap dari cerita ini. Walaupun ada kekurangan ada dalam diri kita pasti ada kelebihannya, tergantung bagaimana kita bisa menjalaninya. Film ini juga banyak mendapat perhargaannya loh !!!

·        Kekurangan          :
Menurut saya di dalam film ini tidak ada kekurangannya, karena ini berbeda dengan cerita film india pada umumnya seperti percintaan antara seseorang yang sedang kasmaran. Walaupun masih terdapat joget joget ala ala india ini tidak mengganggu sama sekali, sebab itu adalah ciri khas film india

·        Penilaian

Penilaian saya terhadap film paa ini adalah 5 bintang ***** 

Rabu, 16 Oktober 2013

CANDI TERCANTIK

Nama          : Hendah Lahyunita K
Kelas : 3EB08
NPM : 23211278


CANDI PRAMBANAN


          Berlibur ke Jogyakarta tidak lengkap rasanya bila tak berkunjuk ke tempat-tempat penuh sejarah seperti Candi Prambanan. Disana kita bisa banyak belajar tentang sejarah dan asal asul Candi Prambanan berdiri. Bila musim liburan tiba banyak wisatawan lokal maupun luar Negeri berkunjung ke Candi Prambanan. Disana banyak terdapat tempat penginapan yang harganya terjangkau dan sesuai dengan budget mahasiswa. Harga tiket masuk Candi Prambanan juga masih tergolong terjangkau dan banyak paket paket wisata yang di tawarkan.



Tiket masuk Candi Prambanan ( 06.00 – 17.00 )
Local Dewasa                                    : IDR 30.000
Local Anak                                        : IDR 12.500
Foreigner – Adult                               : $ 18
Foreigner – student (registered)          : $ 10

Candi Prambanan terletak di lingkungan Taman Wisata Prambanan, kurang lebih 17 km ke arah timur dari Yogyakarta, tepatnya di Desa Prambanan Kecamatan Bokoharjo. Lokasinya hanya sekitar 100 m dari jalan raya Yogya-Solo, sehingga tidak sulit untuk menemukannya. Sebagian dari kawasan wisata yang yang terletak pada ketinggian 154 m di atas permukaan laut ini termasuk dalam wilayah Kabupaten Sleman. Sedangkan sebagian lagi masuk dalam wilayah Klaten. Kita bisa menggunakan berbagai jenis transportasi yang ada seperti mobil, angkutan umum, dan trans jogya harganya pun masih sangat terjangkau sekitar Rp. 3000 – Rp. 10.000.



Sejarah Candi Prambanan adalah bangunan luar biasa cantik yang dibangun di abad ke-10 pada masa pemerintahan dua raja, Rakai Pikatan dan Rakai Balitung. Menjulang setinggi 47 meter (5 meter lebih tinggi dari Candi Borobudur), berdirinya candi ini telah memenuhi keinginan pembuatnya, menunjukkan kejayaan Hindu di tanah Jawa.


                Terdapat sebuah legenda yang selalu di ceritakan oleh masyarakat tentang Candi Prambanan. Lelaki bernama Bandung Bondowoso mencintai Roro Jonggrang. Karena tak mencintai, Jonggrang meminta Bondowoso membuat candi dengan 1000 arca dalam semalam. Permintaan itu hampir terpenuhi sebelum Jonggrang meminta warga desa menumbuk padi dan membuat api besar agar terbentuk suasana seperti pagi hari. Bondowoso yang baru dapat membuat 999 arca kemudian mengutuk Jonggrang menjadi arca yang ke-1000 karena merasa dicurangi.


Banyak yang bisa kita lihat di Candi Hindu tercantik di Dunia ini seperti relief relief yang menarik seperti kisah rahmayana, pohon kalpataru yang digambarkan tengah mengepit singa. Relief tersebut banyak mengandung arti dan filosofi-filosofi yang kini dipakai oleh ilmuan-ilmuan. Tetapi terdapat pula relief yang mengundang pertanyaan yaitu Jambul Kuning (cacatua sulphurea) Sebabnya, burung itu sebenarnya hanya terdapat di Pulau Masakambing, sebuah pulau di tengah Laut Jawa. Lalu, apakah jenis itu dulu pernah banyak terdapat di Yogyakarta? Jawabannya silakan cari tahu sendiri. Sebab, hingga kini belum ada satu orang pun yang bisa memecahkan misteri itu.


Selain kita bisa menikmati keindahan bangunan Candi Prambanan terdapat juga Sendratari Ramayana dan tawur agung. Sendratari Ramayana cerita ini berkisah tentang tugas hubungan kualitas yang ideal istri, raja, saudara dan hamba. Dewa, manusia, raksasa, monyet dan indah perempuan semua datang bersama-sama untuk menceritakan kisah warna-warni dari pacaran diselingi oleh penculikan dan pertempuran. Pertujunkan Sendratari Ramayana ini bisa dinikmati pukul 19: 30 – 09: 30 karna Sendratari Ramayana dilaksanakan di luar ruangan maka acara tersebut tergantung dengan cuaca. Haga tiket untuk menonton Sendratari Ramayana ini dibagi menjadi 2 kategori.
·        Harga tiket untuk Ramayana udara terbuka teater        :
-         Vip class duduk                                              Rp 350.000
-         Khusus kelas duduk                                        Rp 200.000
-         Kelas duduk                                                    Rp 150.000
-         Second class duduk                                         Rp 100.000
-         Siswa kelas duduk                                           Rp 30.000
·        Harga tiket untuk teater trimurti                :
-         Khusus kelas duduk                                        Rp 200.000
-         Kelas duduk                                                    Rp 150.000
-         Second class duduk                                         Rp 100.000
-         Siswa kelas duduk                                           Rp 30.000


Sedangkan Tawur Agung adalah upacara terbesar penduduk Hindu Jawa Tengah, pada tanggal yang ditentukan oleh kalender Hindu Bali, menjelang Nyepi jatuh pada malam bulan baru setiap kali itu terjadi sekitar Maret atau Apri setiap tahun. Upacara dimulai ketika matahari berada pada tertinggi siang hari, dupa kemudian dibakar dan wedas atau kitap suci agama Hindu kemudian dibacakan, dengan denting lonceng untuk menemani.


Pada saat upacara Tawur Agung ada orang-orang yang membawa kertas besar buatan stupa, yang dikenal sebagai Ogoh-Ogoh yang dibakar sebelum matahari terbit untuk melambangkan segala kejahatan meninggalkan menjelang tahun baru. Tujuan dari upacara dan persembahan adalah untuk mencapai keselarasan antara manusia, tuhan, dan lingkungan mereka, dan untuk memurnikan.

          Saya sempat bertanya kepada wisatawan bagaimana tanggapan mengenai Candi Prambanan, dan semua tanggapan yang saya terima mendapat respon yang positif. 
o   Firdaus ( wisatawan asal Jakarta )    : “ Menurut saya wisata bersejarah ini sangat menarik karena kita bisa banyak mengetahui tentang asal mula Candi Prambanan, selain itu disini juga banyak pedagang yang menawarkan berbagai macam oleh-oleh seperti baju batik, tas, dan kerajinan tangan yang dibuat oleh penduduk sekitar Candi Prambanan. Harga yang ditawarkan pun beragam-ragam dari mulai yang termurah dan ada juga yang mahal.”

o   Ibu Arum ( wisatawan asal padang )          : “ Karena saya berasal dari luar Pulau Jawa berkunjung ke Candi Prambanan ini sangat menarik dan berkesan, udara disini juga sangat sejuk saat pagi hari. Biaya yang kita keluarkan juga sangat terjangkau mulai makanan yang murah, penginapan, hingga membeli barang kerajinan masih bisa tawar-menawar oleh pedagang. Selain itu saya bisa tahu mengenalkan kepada anak saya mengenai sejarah di luar daerah asal kita.”

Di Indonesia memang banyak sekali tempat wisata bersejarah yang menarik untuk di kunjungi untuk itu kita harus melestarikan budaya agar anak cucu kita bisa tau betapa kaya dan indah Negara kita Indonesia.