Kamis, 09 Januari 2014

Enam Jenis Sakit Kepala yang Tidak Boleh Diabaikan

Enam Jenis Sakit Kepala yang Tidak Boleh Diabaikan

T.E. Holt, M.D., seorang dokter di University of North Carolina School of Medicine, menulis tentang penyakit paling umum di dunia: sakit kepala. Hampir semua manusia pernah mengalami sakit kepala dalam hidupnya. Ada beberapa jenis sakit kepala yang paling sering ditemui:

Sakit kepala tegang: Ini merupakan sakit kepala yang paling umum terjadi, dengan rasa nyeri menyerang bagian atas kepala Anda. Sakit kepala jenis ini sering kali diakibatkan oleh stres dan kurang tidur, umumnya tidak menghambat aktivitas, biasanya hilang dalam waktu semalam dan dapat dengan mudah diobati menggunakan ibuprofen, asetaminofen, atau aspirin.

Sakit kepala sebelah atau migrain: Migrain cenderung menyerang salah satu sisi kepala, dan dapat berlangsung selama beberapa jam hingga beberapa hari. Sakit kepala jenis ini biasanya ditandai dengan sensitivitas terhadap suara dan cahaya. Saat migrain menyerang, Anda dapat mengatasinya dengan obat jenis ibuprofen atau aspirin, dan asetaminofen.

Sakit kepala kluster: Sakit kepala yang satu ini merupakan sakit kepala hebat yang menyerang di balik salah satu mata, dan mencapai puncaknya setelah satu jam, setelah itu menghilang, namun sehari atau beberapa hari kemudian kembali menyerang. Hal ini berlangsung selama beberapa pekan, dan kemudian terhenti selama beberapa bulan. Banyak obat sakit kepala kluster, termasuk beberapa obat migrain.

Menurut Dr. Holt, kabar baik mengenai sakit kepala di atas adalah penyakit tersebut sama sekali tidak berbahaya. Tapi tidak semua sakit kepala merupakan sakit kepala ringan. Berikut adalah enam pertanda jika sakit kepala Anda ternyata serius dan berpotensi mematikan.

1. Sakit kepala seperti sambaran petir: Jika sakit kepala menyerang Anda dan rasanya seperti ditusuk-tusuk, kemudian berubah menjadi sakit kepala terburuk yang pernah Anda alami, segera ke rumah sakit. Efek dari sakit kepala jenis itu memang tidak lama, tapi hampir semuanya bisa berkibat fatal dengan sangat cepat, di antaranya aneurisma, stroke dan meningitis, kata Dr. Holt.

2. Sakit kepala karena berolahraga: Jika sakit kepala muncul dengan cepat dan rasanya luar biasa sakit setelah mengerahkan tenaga fisik, segeralah pergi ke dokter. Mungkin efeknya tidak berbahanya, ujar Dr. Holt. Tapi itu bisa memicu terjadinya pendarahan subarachnoid.

3. Sakit kepala yang merambat ke leher Anda: Sakit kepala ringan hanya terasa di kepala Anda, ujar  Dr. Holt. Sakit kepala yang merambat ke mana-mana bisa berarti meningitis dan pendarahan. Jadi segera telepon layanan darurat, khususnya jika sakit kepala Anda disertai demam, infeksi, ruam gatal, dan membuat Anda kesulitan berpikir.

4. Sakit kepala yang tak habis-habis: Sakit kepala yang datang dan pergi selama berhari-hari - dengan demam ringan, gangguan penglihatan dan nyeri pada salah satu pelipis Anda - seringkali merupakan gejala dari peradangan pembuluh darah, dan bisa mengakibatkan kebutaan jika tidak segera diobati. Segera temui dokter Anda, saran Dr. Holt.

5. Sakit kepala yang menular: Seluruh anggota keluarga Anda berada di rumah pada suatu sore. Semakin lama, Anda tiba-tiba mengalami sakit kepala yang semakin memburuk. Jika lambat laun anggota keluarga Anda juga mengalami sakit kepala serupa, segera pindahkan semua orang ke luar ruangan. Kemungkinan ada kerusakan dalam perangkat rumah yang mengeluarkan karbon monoksida. Jika Anda sudah berada di luar rumah, hubungi pemadam kebakaran untuk mencari sumber masalah. Sakit kepala Anda pasti akan hilang dalam waktu beberapa jam.

6. Sakit kepala saat Anda bangun tidur
Anda harus memperhatikan jika sakit kepala Anda semakin memburuk selama beberapa pekan ke depan, ucap Dr. Holt, atau jika sakit kepala semacam itu terjadi setiap Anda bangun pagi. Itu merupakan pola klasik untuk sakit kepala yang perlahan-lahan semakin memburuk. Jika ini terjadi, memang tidak perlu buru-buru pergi ke Unit Gawat Darurat, tapi Anda setidaknya harus segera periksa ke dokter dan minta jadwal untuk MRI (Magnetic Resonance Imaging).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar